Nina Nugroho Dalam Balutan Ulos Deli Serdang Ifw 2018

Muslimah–  Dalam perhelatan fashion akbar 2018 , Indonesia Fashion Week 2018,desainer Nina Nugroho berkolaborasi dengan kabupaten Deli  Serdang Sumatera Utara.  Deli Serdang yaitu salah satu kabupaten di provinsi Sumatera Utara yang memiliki bebarapa obyek wisata menyerupai rumah kedatukan ,Gereja Buluh Awar, Tari Serampang XII serta Masjid Raya Sultan Basyarudin atau Masjid Raya Rantau Panjang.

Selain kearifan lokal kabupaten Deli Serdang juga memiliki hasil karya para warga pengrajin busana yaitu kain Ulos. Menurut Kepala dinas perindustrian dan perdagangan kabupaten Deli Serdang Rafis semua kain Ulos yang terdapat di sumatera utara , masing masing kawasan memiliki ciri khas tersendiri termasuk deli serdang.

Kabupaten Deli Serdang sendiri gres pertama kali mengikuti program akbar Indonesia Fashion Week 2018 dan berharap sanggup mempromosikan kain ulos dan tekstil deli serdang di tingkat nasional. Terdapat dua puluh tujuh pengrajin tradisional yang di bina oleh dinas perindag kabupaten Deli Serdang. Kabupten Deli Serdang akan terus Fokus untuk memasarkan produk produk tekstil alasannya peluangnya sangat besar.

Menurut Ketua dekranasda kabupaten deli serdang,pengrajin ulos terus di bina dan di kembangan melalui beberapa program baik di deli serdang sendiri maupun di provinsi Sumatera Utara. Letak Strategis deli serdang yang berdekatan dengan bandara kualanamu medan,menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatan untuk mencari oleh oleh khas deli serdang.

Pada program Indonesia Fahsion week 2018, Nina Nugroho Mengambil tema “ Techo Culture’’ yaitu dengan mengkolaborasikan kain Ulos Deli serdang dalam karya rancangannya. Nina Nugroho sendiri gres pertama kali mengangkat kain ulos dari deli serdang alasannya berdasarkan beliau kain ulos deli serdang ketika ini sangat cocok dengan karyanya.

Sebuah Retrospeksi Agnes Budhisurya

Muslimah- Sejak usia muda tangan lentik seorang agnes budhisurya sudah akil dalam menciptakan gaunnya sendiri meskipun masih dibawah kode sang Bunda. Tepatnya dalam usia tiga belas tahun. Sejak ketika itu sepanjang hidup Agnes di penuhi dengan karya gaun gaun yang di buatnya sendiri dengan aneka macam bentuk dan  aplikasi dari pengalaman hidup.

Agnes berpikir keras bagiamana karyanya tidak gampang ditiru oleh orang lain. Dengan ketekunannya Agnes karenanya menemukan sesuatu yang tidak gampang ditiru pada karyanya.Bahan tenun di sapu dengan cat lukis menjadi solusi untuk menyelaraskan warna –warna yang ada dengan aneka macam motif. Selama ini materi sutra yang paling bagus untuk gaunnya. Agnes berprinsip bahwa motif bunga bunga menyebabkan wanita lebih anggun dan menarik.

Melalui bordir menciptakan nama Agnes membumbung tinggi di dunia mode dan hasil karyanya terpampang di jendela jendela butik di  Tokyo,New York bahkan timur tengah dan Afrika selatan. Agnes memperkaya desain gaunnya dengan sapuan kuasnya mulai dari lembaran kain yang halus sampai melalui karyanya dengan batik dan tenun,lalu memastikan bahwa semua desainnya mempunyai keunikan yang hanya dapat di miliki oleh seorang Agnes budhisurya.

Di usianya yang tujupuluh tiga tahun,Agnes menampilkan tujuhpuluh tiga koleksinya yang  di Mitra Hadiprana  pada 16/4/2018 sebagai sebuah Retrospeksi.

Sebuah Retrospeksi Agnes Budhisurya

Muslimah- Sejak usia muda tangan lentik seorang agnes budhisurya sudah berilmu dalam menciptakan gaunnya sendiri meskipun masih dibawah aba-aba sang Bunda. Tepatnya dalam usia tiga belas tahun. Sejak dikala itu sepanjang hidup Agnes di penuhi dengan karya gaun gaun yang di buatnya sendiri dengan banyak sekali bentuk dan  aplikasi dari pengalaman hidup.

Agnes berpikir keras bagiamana karyanya tidak gampang ditiru oleh orang lain. Dengan ketekunannya Agnes akibatnya menemukan sesuatu yang tidak gampang ditiru pada karyanya.Bahan tenun di sapu dengan cat lukis menjadi solusi untuk menyelaraskan warna –warna yang ada dengan banyak sekali motif. Selama ini materi sutra yang paling bagus untuk gaunnya. Agnes berprinsip bahwa motif bunga bunga menimbulkan wanita lebih bagus dan menarik.

Melalui bordir menciptakan nama Agnes membumbung tinggi di dunia mode dan hasil karyanya terpampang di jendela jendela butik di  Tokyo,New York bahkan timur tengah dan Afrika selatan. Agnes memperkaya desain gaunnya dengan sapuan kuasnya mulai dari lembaran kain yang halus sampai melalui karyanya dengan batik dan tenun,lalu memastikan bahwa semua desainnya mempunyai keunikan yang hanya dapat di miliki oleh seorang Agnes budhisurya.

Di usianya yang tujupuluh tiga tahun,Agnes menampilkan tujuhpuluh tiga koleksinya yang  di Mitra Hadiprana  pada 16/4/2018 sebagai sebuah Retrospeksi.

Muslim Fashion Pameran Indonesia 2018

Muslimah – Muslim Fashion Festival Indonesia (MUFFEST) 2018 yang digelar pada 19 -22 April 2018 di  Jakarta Convention Center (JCC) Jakarta, secara resmi dibuka  oleh Presiden Joko Widodo bersama Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, dan  Ali Charisma selaku National Chairman Indonesian Fashion Chamber (IFC).

“Industri kreatif, termasuk industri fashion muslim punya masa depan yang cerah. Karena ketika ini kita hidup di masa teknologi, masa keterbukaan, masa kompetisi, dan masa lifestyle. Busana muslim sudah menempel dengan masyarakat Indonesia. Setiap kali saya keliling dunia, banyak bertemu dengan orang, selalu mereka memberikan bahwa busana muslim dari Indonesia sangat disukai dan digandrungi. Kata mereka, model dan desainnya elok dan kreatif. Sekarang tinggal bagaimana kita mengakibatkan Indonesia sebagai sentra busana muslim dunia,” tutur Presiden Jokowi dalam pidato sambutannya.

Sementara  Ali Charisma menyatakan bahwa dengan jumlah penduduk beragama Islam terbesar di dunia, otomatis Indonesia menjadi sasaran pasar brand-brand luar negeri. Terbukti dengan maraknya brand terkenal dari Eropa memasarkan koleksinya yang memakai branding modest. “Untuk melindungi pasar Indonesia, kita perlu taktik yang matang. Kekuatan kita ada di budaya Indonesia yang hanya dimiliki oleh kita. Dengan nafas saling menghargai perbedaan, memperhatikan lingkungan, inovasi, dan branding, serta bisnis strategi, kita wujudkan produk ready to wear craft fashion. Insya Allah Indonesia akan dapat menguasai pasar kita sendiri dan siap bersaing, serta berhubungan dengan produk fashion luar yang akan masuk ke Indonesia,” lanjut Ali Charisma.

Dalam program Opening Ceremony MUFFEST 2018 menghadirkan peragaan koleksi rancangan desainer Sofie, ETU by Restu Anggraini, Noore, dan Ernesto Abram, dan parade karya desainer yang tergabung dalam Indonesia Fashion Chamber (IFC). Serta pihak penyelenggara yang diwakili Ali Charisma dan Taruna K. Kusmayadi dari Indonesia Fashion Chamber (IFC) bersama Addhy Damarwulan dari Dyandra Promosindo, menawarkan apresiasi kepada seluruh pihak dan kawan yang mendukung penuh penyelenggaraan MUFFEST 2018.

Area exhibition MUFFEST 2018 menampilkan lebih dari 400 brand mencakup busana muslim, hijab, aksesori, dan atribut lainnya yang mengarahkan pada produk ready to wear craft fashion dengan mengangkat konten lokal yang mengacu pada Indonesia Trend Forecasting (Muslim Fashion Trend) 2018/2019. Dengan memperkuat konsep retail atau B2C (Business to Customer) sekaligus mengarah pada B2B (Business to Business), MUFFEST 2018 menyediakan keragaman gaya busana muslim Indonesia, mulai dari gaya konvensional sampai kontemporer untuk memenuhi banyak sekali selera konsumen di pasar lokal maupun global.

Active Muslima Community

Muslimah– Dalam kehidupan muslimah di jakarta dengan aneka macam latar belakang karir seorang muslimah.Peran penting yang  harus di perhatikan salah satunya yakni busana yang di kenakan sehari hari.  Active Muslima Community ( AMC ) yakni perkumpulan para perempuan muslimah yang aktif berkarya,baik sebagai karyawan,professional maupun pengusaha. AMC didirikan oleh Nina Septiana, Ibu dari empat orang anak yang juga seorang Fashion Designer serta pengusaha Busana muslimah Nina Nugroho.

AMC menggelar seminar dan Talkshow dengan tema ”  Active Muslima Way” pada (19/4/2018) di Fx sudirman Jakarta. Hadir sebagai nara sumber  Nina Septiana,Paramitha Soemantri dan Zhakyah Yunarwati.  Nina menjelaskan bahwa Brand Nina Nugroho focus kepada busana muslimah untuk perempuan karir alasannya yakni di rasa selama ini masih belum banyak yang memperhatikan dari segi fashion imbuh Nina. Untuk busana kantor Nina septiana menganjurkan padupadankan busana sesuai dengan program dan pemilihan warna yang sesuai dengan warna warna datar serta desain yang simple supaya dapat beraktifitas dengan gampang dan menunjukkan langsung yang professional.

Sementara itu Paramitha Soemantri menyoroti tugas dari seorang ibu rumah tangga dan juga sebagai perempuan karir yaitu sebagai presenter sebuah televise dimana pagi siaran malamnya harus menyiapkan keperluan untuk anak anak dan suaminya juga menyiapkan bahan untuk di sajikan pada pagi harinya. Karena bahan tiap hari berubah rubah kadang politik,hukum,sosial dan lain lain, maka parimitha harus menyesuaikan dengan perkembangan beritanya.

Dari sisi kedekatan keluarga di soroti oleh Zhakyah Yunarwati dengan ketika ini perkembangan Gadget sangat menghipnotis anak anak. Tetapi hal itu tidak dapat di elakkan alasannya yakni memang masanya, hal itu dapat di atasi hanyan dengan membatasi anak untuk bermain Gadget atau orang renta mencarikan acara lain selain bermain Gadget.

Melebihi Sasaran Muffest 2018 Ditutup

Muslimah  Pagelaran Muslim Fashion Festival (MUFFEST) Indonesia 2018 telah usai digelar. Pameran Busana itu resmi di tutup Oleh  Gati Wibawaningsih selaku Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian Republik Indonesia bersama Ali Charisma selaku National Chairman of Indonesia Fashion Chamber dan Rina Radinal Maksum selaku CEO PT. Dyandra Media International Tbk.

Gelaran MUFFEST 2018 yang telah resmi dibuka oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, semenjak 19 April 2018 ini telah berlangsung bisa di bilang  sukses dan berhasil mencapai melebihi sasaran yakni jumlah 51.389 pengunjung serta total nilai transaksi 38.9 miliar rupiah dari sekitar 200 exhibitor yang turut berpartisipasi.

Melalui rangkaian jadwal acara, fashion show, serta exhibition, MUFFEST 2018 telah berhasil menampilkan keunggulan produk fashion muslim Indonesia yakni keragaman gaya dan desain busana muslim dengan ciri khas Indonesia yang mengoptimalkan konten lokal serta proposal tren fashion muslim Indonesia yang berbeda.

MUFFEST 2018 telah menghadirkan area exhibition untuk 200 brand fashion muslim Indonesia yang memperkuat konsep ritel atau B2C sekaligus mengarah pada B2B untuk konsumen ritel maupun buyer.Menunjang pameran, digelar pula rangkaian fashion show yang menampilkan keragaman karya 100 desainer dan brand fashion muslim di Indonesia, mulai dari gaya konvensional hingga kontemporer yang sesuai Indonesia Trend Forecasting (Muslim Fashion Trend) 2018/2019. MUFFEST 2018 tak hanya memberi kesempatan bagi desainer senior, namun juga desainer muda sebagai generasi penerus untuk mengatakan warna gres dalam ranah fashion muslim di Indonesia.

Penyelenggaraan MUFFEST 2018 atas pertolongan instansi pemerintah yang berkomitmen memberdayakan industri fashion muslim di tanah air, yaitu Kementerian Perindustrian, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM), Kementerian Perdagangan, Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF). Serta pihak sponsor yang konsisten mengatakan bantuan terhadap perkembangan fashion muslim Indonesia.

“Sebagai event dan movement berkelanjutan yang diarahkan sebagai ajang taraf internasional yang menjadi pujian Indonesia, MUFFEST sanggup menjadi salah satu lokomotif dalam menggerakkan industri fashion tanah air dan menjadi ruang bagi seluruh pihak dan stakeholder terkait untuk saling terintegrasi secara sinergis dalam memperkuat ekosistem industri fashion muslim Indonesia yang pada kesudahannya sanggup mengantarkan Indonesia menjadi pusat fashion muslim dunia di tahun 2020,” papar Rina Radinal Maksum.

“Kami, desainer-desainer yang bergabung dalam Indonesian Fashion Chamber, berkomitmen untuk memajukan industri mode Indonesia. Kami yakin bahwa momentum untuk mengakibatkan Indonesia sebagai pusat mode muslim dunia yaitu sekarang. Bukan esok, ataupun lusa. Tentunya, kami tidak bisa berjalan sendiri. Kami memerlukan pertolongan pemerintah dan para stakeholders lain,” ujar Ali Charisma.

Dengan memperkuat kompetensi dan sinergi, produk fashion muslim Indonesia dipastikan sanggup menguasai pangsa pasar lokal sekaligus bisa bersaing di pasar global. Seperti yang disampaikan oleh Presiden Jokowi dalam Opening Ceremony MUFFEST 2018 bahwa industri fashion muslim punya masa depan yang cerah. Dunia internasional pun telah mengapresiasi keindahan desain busana muslim Indonesia. Presiden Jokowi pun berharap supaya ke depannya busana muslim Indonesia sanggup lebih memperlihatkan ciri khas Indonesia dan bersinergi dengan sektor-sektor lain serta memperhatikan perkembangan teknologi terkini untuk mengakibatkan Indonesia sebagai sentra fashion muslim dunia.

Modest In Harmony

Muslimah– Menjelang hari raya idul fitri 1439 H, Desainer Nina Nugroho tampilkan karya busana muslimah dengan tema Modest In Harmony.  Pada ketika  tampil di program Hijab Festive Week 2018 yang berlangsung di FX sudirman Jakarta pada 2/6/2018.

Menurut Nina ‘’ Berbusana muslimah yang sederhana dan tetap elok serta elegant , tidak terlalu berlebihan, dapat mobile kemana mana dapat menjadi isnpirasi bagi setiap muslimah. Nina nugroho sendiri memiliki tagline ‘’modest fashion for muslimah active”  dan karya karya Nina Nugroho sudah di pakai oleh para muslimah aktif. Dengan materi dasar satin dan brokat di tambah payet payet menambah elok koleksi dari Nina Nugroho.

Terinspirasi gurun pasir di timur tengah Nina nugroho mengambil warna menyerupai warna pasir yang agak kekuning kuningan.

Fascinating Java Sisesa Untuk Paris Fashion Week 2018

Busana Syar’i ketika ini  menjadi tren dikalangan muslimah Indonesia dan dunia. Di beberapa negara memang mempunyai ciri khas tersendiri termasuk di Indonesia. Sejak awal pendirian sisesa selalu konsiten dengan busana Syar’i . Awal  bangkit tahun 2011 sampai ketika ini sisesa telah sukses menampilkan koleksi koleksi busana syar’i yang menjadi trend setter pada beberapa event skala nasional dan Internasional. Hal ini menciptakan sisesa mempunyai  penggemar sendiri dengan sebutan Sisesa Lovers.

Dengan menampilkan desain yang cantik, kombinasi detail dan pilihan warna sisesa terlihat lebih fashionable dan kekinian.Sementara itu berdasarkan siriz dan sansa “ Fascinating Java diangkat menjadi tema koleksi Sisesa pada gelaran Paris Fashion Week 2018.  Terinspirasi dari kekayaan budaya pulau jawa yang di nilai sangat unik dan menarik. Bahkan salah satu kekayaan seni pulau jawa menjadi Warisan Kemanusiaan untuk Budaya verbal dan Nonbendawi oleh Unesco. ‘’

Diangkatnya tema Fascinating Java terinspirasi dari batik kudus yang memilki ciri khas motif batik berupa pesona alamnya yaitu Gunung Muria. Untuk tehnik pembuatan batiknya memakai metode Printing yang dikerjakan oleh pengrajin Kudus. Selain batik kudus sisesa juga terinspirasi oleh batik pekalongan yang mempunyai ciri khas Jlamprang yaitu motif yang geometris dan dinamis. Ditambah lagi kesenian Bordir yaitu hiasan yang di aplikasikan diatas kain atau materi lain dengan jarum jahit dan benang. Bordir yakni salah satu kesenian khas dari kota tasikmalaya jawa barat.

Fascinating Java mempunyai detail,aplikasi dan pengerjaan yang cukup sulit dengan adanya unsur batik dan bordir. Warna yang digunakan berpedoman pada warna Fall atau winter, menyerupai batik memakai warna unggu, pink,plum,cream,hitam,salmon dan rosewood. Sedangkan bordir didominasi oleh hijau pine,sage,hitam,coklat, cream dan dusty pink.

Dengan 15 set rancangan busana muslim syar’i ready-to wear dengan sentuhan couture. Konsep desain feminine,sophisticated dan deluxe kombinasi antara fabric chiffon,jersey dan tulle membuat koleksi ini sanggup digunakan untuk special event.Fascinating Java merupakan koleksi sisesa khusus untuk event Paris Fashion Week dengan mengakibatkan kebudayaan khas Indonesia yaitu Batik Bordir sebagai Focal Point.

Imfd Tampil Di Paris Fashion Week 2018.

Enam desainer Indonesia Modest Fashion Desainer ( IMFD) akan tampil  di ajang internasional Paris Fashion Week yang akan di gelar pada   25/09/2018.   Masing masing desainer akan menampilkan karya gres mereka di ajang bergengsi tersebut. Diantaranya ialah Jeny Tjahyawati, Lia Afif,Sisesa, Hj Ratu Anita Soviah, Nila Baharuddin dan Melia Wijaya.

Sebagai Ketau IMFD Jeny membawa tema  Bali The Island Paradise  dengan Tenun Endek yang memadukan sutra dan benang katun yang dipadukan dengan materi viscose dan renda. Tenun buatan tangan yang mempunyai kesan budaya dan pesona pesisir bali di mana keseimbangan antara modern,tradisional dan masa lampau terbentuk dari warisan budaya pesisir Indonesia.

Sementara itu Lia Afif menghadirkan criolla charmera. Lia afif kali ini membawa batik jember yang eksotik dan mengangkat unsur-unsur hasil bumi yang berkembang di Kabupaten Jember. Padu padan batik tulis jember di kombinasikan dengan kain duchees ,lace chiffon dan organdi yang bermain di warna  hitam untuk menampilkan keindahan warna buah coklat, kopi dan tembakau.

Sisesa sendiri masih konsistensi dengan busana Syar’i. Kali ini sisesa menghadirkan Fascinating Java untuk Paris Fashion Week. Dengan wangsit batik kudus dipadukan dengan batik pekalongan serta bordir tasikmalaya sisesa menghadirkan busana muslimah yang syar’i dan anggun. Dengan menimbulkan kebudayaan Indonesia khas indonesia yaitu batik bordir sebagai Focal Point.

Songket Palembang sendiri akan dibawa oleh Ratu Anita soviah. Dengan kemasan yang modern, ratu anita soviah mengkombinasikan materi bahan polos yang berwarna warni dengan motif hias songket eperti bunga cino dan nampan perak.

Nila Baharuddin akan menampilkan tenun garut berbahan suterayang mempunyai ragam motif kompleks sehingga sanggup di rubah bentuk menjadi yang indah dan modern.

Bali The Island Paradise By Jeny Tjahyawati

Bali memilki seni dan budaya yang indah salah satunya yaitu kain tenun Endek yang dulunya hanya di gunakan oleh keluarga raja di Bali.  Hal inilah yang mendasari Jeny Tjahyawati mengangkat tema Bali The Island Paradise dalam gelaran Paris Fashion Week 2018 (25/09/18). Jeny akan menampilkan Tenun Endek di kancah Internasioanal,  Seiring dengan berjalannya waktu Tenun Endek mulai dipakai oleh semua kalangan masyarakat. Dalam prosesnya tenun endek memakai sutra dan tenun yang dipadukan dengan materi viscose dan renda.

Dengan memilki elemen bunga bunga sebagai citra keindahan tumbuhan dan rujukan geometris dekoratif dengan perpaduan warna warna alami. Kombinasi dalam koleksi ini memadukan teknik ikat celup dan plis ket. Tenun buatan tangan yang mempunyai kesan budaya dan pesona pesisir bali. Di tangan jeny Tjahyawati di olah menjadi busana muslimah yang seimbang antara modern,tradisional, masa lampau budaya lokal dan gila terbentuk dalam warisan budaya pesisir Indonesia.