Fascinating Java Sisesa Untuk Paris Fashion Week 2018

Busana Syar’i ketika ini  menjadi tren dikalangan muslimah Indonesia dan dunia. Di beberapa negara memang mempunyai ciri khas tersendiri termasuk di Indonesia. Sejak awal pendirian sisesa selalu konsiten dengan busana Syar’i . Awal  bangkit tahun 2011 sampai ketika ini sisesa telah sukses menampilkan koleksi koleksi busana syar’i yang menjadi trend setter pada beberapa event skala nasional dan Internasional. Hal ini menciptakan sisesa mempunyai  penggemar sendiri dengan sebutan Sisesa Lovers.

Dengan menampilkan desain yang cantik, kombinasi detail dan pilihan warna sisesa terlihat lebih fashionable dan kekinian.Sementara itu berdasarkan siriz dan sansa “ Fascinating Java diangkat menjadi tema koleksi Sisesa pada gelaran Paris Fashion Week 2018.  Terinspirasi dari kekayaan budaya pulau jawa yang di nilai sangat unik dan menarik. Bahkan salah satu kekayaan seni pulau jawa menjadi Warisan Kemanusiaan untuk Budaya verbal dan Nonbendawi oleh Unesco. ‘’

Diangkatnya tema Fascinating Java terinspirasi dari batik kudus yang memilki ciri khas motif batik berupa pesona alamnya yaitu Gunung Muria. Untuk tehnik pembuatan batiknya memakai metode Printing yang dikerjakan oleh pengrajin Kudus. Selain batik kudus sisesa juga terinspirasi oleh batik pekalongan yang mempunyai ciri khas Jlamprang yaitu motif yang geometris dan dinamis. Ditambah lagi kesenian Bordir yaitu hiasan yang di aplikasikan diatas kain atau materi lain dengan jarum jahit dan benang. Bordir yakni salah satu kesenian khas dari kota tasikmalaya jawa barat.

Fascinating Java mempunyai detail,aplikasi dan pengerjaan yang cukup sulit dengan adanya unsur batik dan bordir. Warna yang digunakan berpedoman pada warna Fall atau winter, menyerupai batik memakai warna unggu, pink,plum,cream,hitam,salmon dan rosewood. Sedangkan bordir didominasi oleh hijau pine,sage,hitam,coklat, cream dan dusty pink.

Dengan 15 set rancangan busana muslim syar’i ready-to wear dengan sentuhan couture. Konsep desain feminine,sophisticated dan deluxe kombinasi antara fabric chiffon,jersey dan tulle membuat koleksi ini sanggup digunakan untuk special event.Fascinating Java merupakan koleksi sisesa khusus untuk event Paris Fashion Week dengan mengakibatkan kebudayaan khas Indonesia yaitu Batik Bordir sebagai Focal Point.

Imfd Tampil Di Paris Fashion Week 2018.

Enam desainer Indonesia Modest Fashion Desainer ( IMFD) akan tampil  di ajang internasional Paris Fashion Week yang akan di gelar pada   25/09/2018.   Masing masing desainer akan menampilkan karya gres mereka di ajang bergengsi tersebut. Diantaranya ialah Jeny Tjahyawati, Lia Afif,Sisesa, Hj Ratu Anita Soviah, Nila Baharuddin dan Melia Wijaya.

Sebagai Ketau IMFD Jeny membawa tema  Bali The Island Paradise  dengan Tenun Endek yang memadukan sutra dan benang katun yang dipadukan dengan materi viscose dan renda. Tenun buatan tangan yang mempunyai kesan budaya dan pesona pesisir bali di mana keseimbangan antara modern,tradisional dan masa lampau terbentuk dari warisan budaya pesisir Indonesia.

Sementara itu Lia Afif menghadirkan criolla charmera. Lia afif kali ini membawa batik jember yang eksotik dan mengangkat unsur-unsur hasil bumi yang berkembang di Kabupaten Jember. Padu padan batik tulis jember di kombinasikan dengan kain duchees ,lace chiffon dan organdi yang bermain di warna  hitam untuk menampilkan keindahan warna buah coklat, kopi dan tembakau.

Sisesa sendiri masih konsistensi dengan busana Syar’i. Kali ini sisesa menghadirkan Fascinating Java untuk Paris Fashion Week. Dengan wangsit batik kudus dipadukan dengan batik pekalongan serta bordir tasikmalaya sisesa menghadirkan busana muslimah yang syar’i dan anggun. Dengan menimbulkan kebudayaan Indonesia khas indonesia yaitu batik bordir sebagai Focal Point.

Songket Palembang sendiri akan dibawa oleh Ratu Anita soviah. Dengan kemasan yang modern, ratu anita soviah mengkombinasikan materi bahan polos yang berwarna warni dengan motif hias songket eperti bunga cino dan nampan perak.

Nila Baharuddin akan menampilkan tenun garut berbahan suterayang mempunyai ragam motif kompleks sehingga sanggup di rubah bentuk menjadi yang indah dan modern.

Bali The Island Paradise By Jeny Tjahyawati

Bali memilki seni dan budaya yang indah salah satunya yaitu kain tenun Endek yang dulunya hanya di gunakan oleh keluarga raja di Bali.  Hal inilah yang mendasari Jeny Tjahyawati mengangkat tema Bali The Island Paradise dalam gelaran Paris Fashion Week 2018 (25/09/18). Jeny akan menampilkan Tenun Endek di kancah Internasioanal,  Seiring dengan berjalannya waktu Tenun Endek mulai dipakai oleh semua kalangan masyarakat. Dalam prosesnya tenun endek memakai sutra dan tenun yang dipadukan dengan materi viscose dan renda.

Dengan memilki elemen bunga bunga sebagai citra keindahan tumbuhan dan rujukan geometris dekoratif dengan perpaduan warna warna alami. Kombinasi dalam koleksi ini memadukan teknik ikat celup dan plis ket. Tenun buatan tangan yang mempunyai kesan budaya dan pesona pesisir bali. Di tangan jeny Tjahyawati di olah menjadi busana muslimah yang seimbang antara modern,tradisional, masa lampau budaya lokal dan gila terbentuk dalam warisan budaya pesisir Indonesia.

Ifw 2019 Pipit Pramudia Tampilkan Embun Pagi

 Menjelang  bulan suci ramadhan tahun 2019 ,APPMI
menggelar ajang fashion show bergengsi, Indonesia Fashion weeks 2019. Ajang
yang di gelar setiap tahunnya ini di ikuti oleh para desainer desainer tanah
air. Selain Fashion show IFW 2019 juga mengelar festival busana muslim dari
barbagai butik dan desainer. Salah satu desainer yang tampil pada ajang ini
adalah Pipit Pramudia.

Dengan membawa  Motif
Hawa, Pipit Pramudai mempersembahkan  Morning Dew yang bermakna Embun Pagi. Dalam
motif hawa tersebut pipit ingin memberikan kesan bahwa dalam berbusana
muslimah tidak hanya sebagai syariat agama tetapi juga untuk meningkatkan
percara diri sebagai seorang muslimah.

Terinspirasi dari tetesan embun pagi pada ranting dan nuansa
kabut,pipit merancang busana muslimah syari yang cocok untuk Pesta. ‘’Dengan
warna warna teduh menyerupai silver, putih dan salem menambah suasana menjadi
syahdu di pagi hari’’ Ujarnya di Jakarta ( 29/3/2019).

Tetesan embun pagi terangkum dalam payet dengan teknik beading
dalam balutan material menyerupai tile,organza dan lace. (roy/ Foto edy bogel )

Ifw 2019 Pipit Pramudia Tampilkan Embun Pagi

 Menjelang  bulan suci ramadhan tahun 2019 ,APPMI
menggelar ajang fashion show bergengsi, Indonesia Fashion weeks 2019. Ajang
yang di gelar setiap tahunnya ini di ikuti oleh para desainer desainer tanah
air. Selain Fashion show IFW 2019 juga mengelar festival busana muslim dari
barbagai butik dan desainer. Salah satu desainer yang tampil pada ajang ini
adalah Pipit Pramudia.

Dengan membawa  Motif
Hawa, Pipit Pramudai mempersembahkan  Morning Dew yang bermakna Embun Pagi. Dalam
motif hawa tersebut pipit ingin memberikan kesan bahwa dalam berbusana
muslimah tidak hanya sebagai syariat agama tetapi juga untuk meningkatkan
percara diri sebagai seorang muslimah.

Terinspirasi dari tetesan embun pagi pada ranting dan nuansa
kabut,pipit merancang busana muslimah syari yang cocok untuk Pesta. ‘’Dengan
warna warna teduh menyerupai silver, putih dan salem menambah suasana menjadi
syahdu di pagi hari’’ Ujarnya di Jakarta ( 29/3/2019).

Tetesan embun pagi terangkum dalam payet dengan teknik beading
dalam balutan material menyerupai tile,organza dan lace. (roy/ Foto edy bogel )